Saat saia menulis ini sebenarnya, tanggal 30 januari. Dan tadi, jam 1 siang (sekarang jam ½ 6 sore). Saia menghadiri Liqo rutin. Menyenangkan sekali. Karena, selama ini saia tidak bisa hadir karena selalu bertepatan dengan kuliah. Biasanya, saia kuliah untuk hari jum’at itu jam 9. Dan pada jadwal Liqo, acaranya jam ½ 9. Waktunya mepet. Karena itu sering kali saia tidak hadir. Hanya bisa ikut kalo libur. Seperti hari ini. Untung libur semester, dan saia bersyukur kembali karena jum’at depan saia pasti masih bisa Liqo. Cuma saia kurang tau apa jadwal kuliah saia semester ini mengijinkan saia bisa ikut Liqo lagi. Kalo jadwalnya tidak berubah, sepertinya, lagi2 saia tidak dapat ikut lagi. Semoga saja jadwal kuliahnya bisa berubah lagi, atau saia mungkin bisa mengusulkan jadwal Liqo yang berubah.
Saat Liqo tadi, saia mendengar kabar duka. Kawan satu Liqo saia yang bernama Annisa wafat tanggal 20 Januari kemarin. Kenapa saia menyebutnya wafat dan bukannya meninggal? Karena saia lebih memandang tinggi kata wafat dari pada meninggal. Saia menggunakan kata wafat hanya pada orang2 yang saia segani. Dan kenapa saia men’segan’i Annisa? Meski saia belum pernah bertemu dengannya. Saia tidak tahu bagaimana wajahnya (karena saia baru datang Liqo 2 kali, dan tidak pernah bertemu dengannya), saia mendengarkan cerita tentangnya yang sangat menakjubkan. Betapa sebagai manusia dalam konteks apapun statusnya, di semua aspek, beliau begitu dahsyat.
Nisa berasal dari lampung. Pada dasarnya ia memang sudah sakit2an. Namun setau saia, sakit yang ia derita memang bukanlah sakit yang ringan. Hanya saja tipe sakit berat yang menahun. Salah satunya ia sakit jantung, hanya sakit jantung yang benar2 saia ketahui. Itupun jenis penyakit jantung yang mana ia derita, saia tidak tahu. Jadi pada dasarnya ia memang tidak kuat untuk terlalu lelah. “Tapi, kalo kamu melihatnya, takkan pernah terbayang olehmu bahwa ia adalah orang yang mempunyai penyakit dan mudah pingsan!” seru temanku Nadya saat menceritakan tentang Nisa. Ia begitu terkenal dengan diri yang tangkas dan cekatan. Pintar dan berwibawa. Sebagai seorang perempuan yang dikodratkan tidak memiliki kekuatan fisik yang kuat, ia sangat bisa digolongkan sebagai perempuan super.
Hanya saja, sekitar akhir bulan November kemarin, dikabarkan bahwa hamper setiap malam ia selalu jatuh pingsan. Karena sudah kepayahan dan teman2 satu kos dengannya sangat mengkhawatirkan keadaan dia. Maka ia dilarikan kerumah sakit. Barulah ia mengetahui, bahwa ia menderita kanker darah. Mengerikan. Dan bukan stadium yang masih ringan, 1 atau 2. Tapi sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Terakhir yang saia ketahui sebelum beliau wafat adalah beliau sempat dirawat disebuah RS di bandung dan akhirnya dibawa kembali ke kampung halamannya, lampung, dan menjalani pengobatan herbal. Yang dipercaya orang tuanya sebagai jalan yang lebih aman. Dan akhirnya, perjuangannya beralhir tanggal 20 januari lalu.
Saia memang belum pernah bertemu dengannya. Tapi, tahukan anda semua? Begitu luar biasanya beliau. Sungguh terhormat hidupnya. Sungguh bermakna jalannya. Kami sangat banyak belajar darinya. Betapa hidupnya berharga. Betapa ia luar biasa. Betapa saia menyesal tak pernah berjumpa dengannya.
0 komentar:
Posting Komentar