Saia pikir, saia tidak pernah menyukai sesuatu tanpa rekomendasi. Sepanjang yang saia ingat ya… seperti rasa suka saia terhadap merk teh tertentu. Yang kalau bisa selalu saia minum tiap sore. Itu adalah teh pertama yang menjadi favorit mamaku. Teh dengan rasa unik yang menyenangkan, lembut sekali rasanya. Cincai sekali dengan kepribadian mamaku. Saia juga menyukai jenis2 seafood, itu juga karena ayahku. Hobiku yang membaca, menulis atau apapun itu juga berasal dari orang lain.
Mungkin hobiku yang sebenarnya mencoba banyak hal kali ya? Tapi, saia pikir gak juga. Karena tidak semua hal saia mau saja mencoba. Hanya yang sudah direkomendasikan tentu saja.
Ah, mungkin saja hobi saia yang murni sejak kecil hanya beladiri kali ya? Hanya itu yang benar2 membuat saia sampai pernah ikut kejuaraannya atau paling tidak sangat antusias. Yang lainnya biasanya hanya sekedar ingin melakukan dan berkala. Jadi tergantung mood juga. Kalo sedang mood saia bisa sangat berkonsentrasi akan hal ini. Tapi, hampir tak pernah menahun. Beda dengan beladiri yang sempat saia pelajari. Seperti Tapaksuci, saat saia masih SMP atau lebih tepatnya Tsanawiyah. Saat itu saia di’pondok’an oleh Orang tua saia karena saia ‘cukup’ aktif. Sehingga, mungkin lebih baik kalo saia di’pondok’an. Dan tentunya beberapa hal yang terjadi di rumah. Sebagai alasan untuk mengisi waktu luang. Saia meminta izin pada orang tua saia untuk mengikuti ekskull Tapaksuci. Dan terhenti karena orang tua saia harus pindah ke Sumatera barat. Sebenarnya, saia diizinkan untuk menetap di sana. Tapi, saia memang saat itu tidak ingin ditinggal. Saat itu mungkin saia baru terbiasa tidak bertemu satu minggu. Karena saat saia melewatkan liburan sehari per bulan saia. Sungguh, saat itu saia bahkan menangis (cengeng memang). Jadi di pertengahan kelas VIII saia pindah ke Sumatera barat.
Saat itu di SMP baru saia, tidak ada ekskull beladiri. Sekolah kecil memang, namun sekolah itu juga yang mengantarkan saia ke salah satu sekolah favorit dikota saia. Dan saia sangat bersyukur. Karena saia bisa masuk ekskull beladiri lagi. Taekwondo. Nikmat… nah, disinilah baru saia bisa mengikuti kejuaraan. Bahkan sangat bersemangat dalam latihan (tapi, saia merasa paling lemah saat harus berlari)
Saat masih di tapaksuci, sulit sekali untuk turun dalam kejuaraan. Karena banyak sekali kawan satu ekskull saia saat itu. Dan walau bukan yang paling bagus, tapi, saia bersyukur dan senang sekali saat itu. Tak ubahnya, waktu saia menjalani latihan di Taekwondo. Tapi, saia dilarang mengikutinya lagi saat naik kelas XII. Dilarang, untuk selamanya. Alasannya klise dan menyebalkan. “kamu itu perempuan”. Hhh..ok. nurut deh. Sekarang kalo mau les juga yang dipandang sebagai kesenangan para perempuan ‘normal’. Saia juga gak ngeluh. Mungkin karena dibesarkan seperti itu. Orang tua saia berusaha menyadarkan saia bahwa saia perempuan (yang beberapa waktu lalu diragukan oleh teman2ku_bercanda pastinya). Dan saia sangat tidak suka jika ada orang yang menganggap orang tua saia kolokan atau kuno dan saia diperlakukan seperti perempuan purba masa lalu, yang selalu memandang rendah perempuan. Tahukan kamu? Saia sangat menghormati mereka. Saat itu (dulu waktu saia belum mengerti), mungkin saia merasa diperlakukan tidak adil (penyesalan selalu datang terlambat). Tapi, pikirku berubah. Semua pasti demi kebaikan saia. Dan orang tuaku bukan lah yang bertipe menjual anak perempuannya (apalagi saia satu2nya perempuan).
Tiap orang mungkin berbeda pikirannya. Tapi ingat. Selalu lakukan yang terbaik menurut hati kecilmu. Karena hampir selalu yang disuarakan hati kecilmu. Adalah sesuatu yang terbaik. Baik paling tidak. Dan itu membuat saia merasa lebih baik akhirnya. Saran saia aja c….